…..
Belajar dan bekerja adalah aktivitas yang tidak dapat berdiri sendiri-sendiri., dimana keduanya saling melengkapi satu sama lain., seperti “kepala” dengan “ekor”.
Kadang kita terlupa bahwasanya hakekat dari proses belajar itu sendiri - - baik yang dilakukan secara sadar (baca: disengaja) maupun tidak., adalah merupakan kemampuan dasariah manusia untuk “membaca serta merasakan” setiap hal yang di alami dalam kehidupan sehari-hari.
Namun., agar apa yang telah kita peroleh melalui proses belajar tadi tidak hilang begitu saja., maka perlu di imbangi dengan kegiatan menulis.
Dan kumpulan ‘Catatan Samping’ serta beberapa modul presentasi powerpoint dibawah ini adalah merupakan sedikit hasil penulisan saya sebagai bagian dari upaya untuk “mengikat makna” dan “memberi arti” akan setiap pengalaman serta ilmu yang saya peroleh dalam proses panjang belajar di lapangan.
At least., semoga apa yang terdapat di dalamnya dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita semua.
Salam Hangat,

Setiap koleksi modul presentasi yang saya miliki, selain dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi individu maupun institusi yang memerlukan materi-materi didalamnya, juga dapat dikemas menjadi event ‘Training’/ ‘Workshop’ tersendiri.
Atau paling tidak berguna sebagai presentasi ‘generik’/ ‘materi dasar’ yg dapat dikembangkan secara lebih komprehensif lagi sesuai dengan kebutuhan.
1. Change Management/ Manajemen Perubahan (32 Slides)
2. Communication in Selling (39 Slides)
3. Competency Based People Management (23 Slides)
4. Customer Service Excellent – Special for ‘Security Service Provider Co.’ (17 Slides)
5. Dinamika Kelompok (22 Slides)
6. Documentation and Filing Fundamental (29 Slides)
7. E-Business; What is it About.? (25 Slides)
8. ECEC; in Business Perspective (for ‘Early Childhood Education Center’) (40 Slides)
9. High Performance Teamwork (19 Slides)
10. Inventory Management for Non Profit Organisation (27 Slides)
11. K3; Awareness (K3 – “Keselamatan & Kesehatan Kerja”) (38 Slides)
12. Logistics; For Non Logisticians (27 Slides)
13. Penilaian Kinerja/ Performance Management (29 Slides)
14. Powerpoint Presentation Tips (22 Slides)
15. Procure Management/ Manajemen Pengadaan (58 Slides)
16. SCM; An Overview for Beginners (SCM – “Supply Chain Management”) (27 Slides)
17. Selecting Core Carriers – Sourcing for Transporter Co. (30 Slides)
18. Self Empowerment/ Seni Pemberdayaan Diri (27 Slides)
19. Training for Interviewer (19 Slides)
20. Training for Teachers – How to Teach With High Impact (35 Slides)
21. Values of Excellence – Generasi Masa Depan (13 Slides)
22. Warehouse; For Non Warehouse Operations (26 Slides)
23. Warehouse Safety Fundamental (34 Slides)
Bagi anda yang berminat untuk mendapatkan salah satu atau beberapa koleksi judul presentasi tersebut diatas dan ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut silahkan menghubungi saya via e-mail di
Terima Kasih.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KARET GELANG
by Arya Jalasena
Karet gelang. Siapapun pasti mengenal benda kecil yang satu ini. Lentur dan kuat. Kadang begitu mudahnya kita menemukan benda ini, terserak disembarang tempat, namun kadang tidak.
Suatu kali, usai bertugas sebagai co-facilitator pada sebuah kegiatan in-house training, saya sangat membutuhkan karet gelang, dua saja. Puluhan pensil serta spidol warna yang berserakan di meja-meja peserta harus saya rapikan kembali. Satu karet kecil sudah saya dapatkan dari dalam tas saya, tinggal satu lagi yang saya butuhkan.
Isi tas saya bongkar, dengan harapan masih ada satu karet gelang lagi yang saya bisa temukan di dalamnya, tetapi nihil. Di atas meja peserta bahkan hingga kolong-kolongnya pun tak satupun karet gelang yang berhasil saya temukan.
Untuk sekilas saya menyesali kebodohan saya karena selama ini terlalu menganggap remeh benda kecil yang satu ini. Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga sama sekali tidak berarti. Benda yang sehari-hari dibuang pun, seperti karet gelang, pada saatnya nanti bisa menjadi begitu penting dan merepotkan.
Kejadian ini kembali menyadarkan saya akan betapa pentingnya peran “orang-orang kecil” dalam keseharian kita: Cleaning Service, Office Boy, Helper, Driver, Tukang Kebun, Tukang Parkir, dst. “Orang-orang kecil” dengan tugas dan tanggung jawab besar di pundak mereka.
Adakalanya kita tidak peduli dengan kehadiran mereka, dan menganggap remeh apa yang mereka kerjakan. Namun pada kenyataannya, tak terbayang kerepotan yang bakal timbul dari ketidakhadiran mereka di ruang kerja kita.
Laju perputaran “main gear” – roda bisnis perusahaan juga sangat tergantung dari seberapa cepat “roda gir kecil” berputar. Tak peduli seberapa “kecil” atau “remeh” nya sesuatu pekerjaan atau seseorang, dia tetap dibutuhkan.!
--------------------------------------------------------------------------------------------
MAKANAN
by Arya Jalasena
Untuk tetap hidup setiap mahluk memerlukan aktivitas yang bernama “makan”. Kita melakukan aktivitas ini paling tidak 3 kali dalam sehari. Pengecualian khusus bagi mereka yang memiliki metabolisme tubuh yang sangat tinggi atau jika sedang dalam kondisi psikis tertentu, bilangan tersebut diatas bisa berlipat jumlahnya.!
Kandungan nutrisi yang terdapat di dalam setiap jenis makanan yang kita konsumsi diperlukan oleh seluruh organ tubuh. Namun banyak diantara kita yang kurang menyadari bahwasanya tidak hanya lambung di perut saja yang memerlukan asupan makanan, bagaimana dengan sel otak.? Mata.? Psikis.? Tubuh.? Pikiran.? Karakter.? dll.
Benar, percaya atau tidak seluruh komponen yang membentuk sosok kita sebagai manusia – baik yang tampak/ dapat terlihat maupun yang tersembunyi memerlukan “Makanan”.
Agar tetap dapat berfungsi secara normal setiap bio-sel otak memerlukan sekurang-kurangnya 3 hal: Oksigen, Nutrisi, dan Informasi. Jika ditambahkan dua “asupan” lagi yaitu: “love” (cinta) serta “challenge” (tantangan), lengkaplah sudah.
Lelah setelah setengah hari kerja menatap layar monitor komputer.? Atau jenuh dengan angka-angka bahkan detail rancangan yang demikian rinci.? Berikan waktu sejenak bagi mata anda untuk menikmati “menu asupan” berbeda: arahkan mata anda pada hal apa saja yang menurut anda “indah untuk dipandang”: photo buah hati atau pasangan anda, gambar produk pada katalog belanja, nuansa hijau tanaman-tanaman di pelataran luar gedung, atau bahkan kalau perlu pergunakanlah waktu 1 jam istirahat makan siang anda untuk bersama rekan-rekan menikmati suasana santap siang bersama di luar kantor sambil “cuci mata”.. :)
Anda gelisah.? Takut gagal.? Cemas dengan problema yang tengah anda hadapi.? Kesal karena merasa dipermalukan di dalam meeting.? Malu.? Ingin Marah.? Berambisi untuk meraih sesuatu.? Let it flow. Ekspresikan saja. Dan jangan pernah lari dari setiap ujian, cobaan serta deraan masalah. Karena itu semua adalah “menu asupan” yang akan membentuk karakter pribadi anda.
--------------------------------------------------------------------------------------------
TALANG AIR
by Arya Jalasena
Musim penghujan telah tiba. Sore itu sepulang dari tugas data intake dari salah satu client nampak tetangga samping rumah tengah asyik “bertengger” di atap teras rumahnya :) , membersihkan saluran talang air katanya. Rupanya kenangan kerepotan yang ditimbulkan akibat talang airnya jebol pada musim penghujan yang lalu menjadikannya lebih waspada kali ini.
Sambil tersenyum dan membalas lambaiannya, saya teringat kejadian pagi tadi ketika sempat terjadi “kericuhan” kecil dimana sang HR Manager menegur keras salah seorang staffnya karena dinilai lalai untuk mengingatkan jadwal schedule data intake yang akan dilaksanakan pada hari ini untuk beberapa department tertentu.
Begitulah, ternyata issue “flow of information” yang macet sama sensitive-nya dengan kejadian “talang air” diatas.!
Sebenarnya tak sedikit dari kita yang telah menyadari bahwasanya salah satu “menu asupan” penting bagi setiap perusahaan/ organisasi – apapun bentuk maupun sektor usahanya, adalah “Informasi”. Namun tak sedikit pula ada orang-orang yang memang memiliki suatu kebiasaan “unik” yaitu terbiasa menunda-nunda suatu perkerjaan, atau bahkan enggan mengerjakannya sama sekali.
Kalau mau jujur, berapa banyak dari kita yang setiap menerima lembar kertas kerja, setelah dibaca sekilas lalu kita letakkan kembali di inbox tray, dengan dalih untuk ditindaklanjuti nanti.?
Kadangkala kita kerap lupa, bahwa sekecil apapun, suatu “informasi” tetaplah “informasi” yang harus segera ditindaklanjuti dengan action (misalnya: dengan meneruskannya ke departemen/ unit kerja terkait yang membutuhkan informasi tersebut).
Sekarang, pilihan di tangan anda: 30 menit sebelum jam kantor hari ini usai, pastikan tidak ada satu dokumen tersisa di dalam inbox tray yang belum anda tindaklanjuti, serta berikan respons segera terhadap setiap e-mail koresponden masuk yang anda terima di dalam mailbox anda hari ini, atau kecuali bilamana anda telah siap “pasang badan” menghadapi masalah yang mungkin timbul dikemudian hari akibat terjerat kasus “flow of information” yang tersumbat seperti talang air bermasalah milik tetangga saya..
--------------------------------------------------------------------------------------------
TAKUT MALU-MALU’IN
by Arya Jalasena
Entah kenapa saya merasa harus menuliskan sedikit catatan kecil untuk hal ini. Pasalnya, tak seperti biasa, saya merasa sedikit nervous (grogi) – lebih tepatnya takut serta malu karena harus membawakan beberapa sub materi dihadapan para training participant yang dalam batch kali ini adalah orang-orang dari level Department Head (Managers).
Takut.? Jelas. Karena kali ini - sebagai co-facilitator, saya “dipaksa” untuk berani membawakan beberapa sub materi (walaupun konten’nya sendiri sebenarnya tidak terlampau berat) dihadapan orang-orang yang lebih senior dari saya, baik usia maupun pengalaman.
Khawatir membuat malu nama besar biro dimana saya bernaung sebagai salah satu associate’nya.? Itu pasti.
But, thanks God. Walaupun sedikit “kedodoran” di menit-menit awal, akhirnya saya dapat membawakan keseluruhan sub materi secara runtut hingga tuntas. Dan yang lebih melegakan, nilai scoring pada lembar training evaluation yang terkumpul dari peserta menunjukkan hasil yang positive, baik dari sisi konten materi maupun facilitator. Alhamdulillah.. :)
“Rasa takut itu manusiawi ‘kok..”, demikian kata salah seorang rekan senior di biro kepada saya pekan lalu. “Bahkan apa jadinya apabila manusia tidak punya rasa takut dan rasa malu.?”, tandasnya lagi.
Mungkin karena melihat saya yang hanya terdiam mendengarkan, kembali ia menambahkan bahwasanya setiap orang perlu untuk tetap memelihara rasa takut serta rasa malu dalam dirinya, karena jika tidak, maka orang tersebut akan berani melakukan apapun, tanpa rasa malu.!
Tinggal sebut beberapa “aktivitas” nekad dan memalukan dalam lingkup keseharian kita: memalsukan laporan keuangan, menggelapkan uang perusahaan, melakukan “mark up” nilai pengadaan barang/ jasa, merusak property/ barang inventaris perusahaan, mengajukan surat dokter serta resep palsu dengan harapan mendapat penggantian dari pihak perusahaan, hingga ngobrol sambil merokok berlama-lama di area parkir – usai waktu lunch break, dan masih banyak lagi..
Satu hal lagi yang tidak kalah memalukan: mendapatkan sesuatu yang berlebih (e.g. prosentase bonus tahunan, kenaikan gaji, hingga promosi jabatan berikut fasilitas terkait) untuk suatu hal yang tidak pernah dilakukan.!
Untuk sesaat., entah kenapa, saya bersyukur karena masih memiliki rasa takut serta rasa malu.
--------------------------------------------------------------------------------------------
CAPEK DECH..
by Arya Jalasena
Sore kemarin, usai melakukan kunjungan dari salah satu client, saya sempatkan untuk mampir sebentar ke rumah orang tua saya yang kebetulan masih satu arah perjalanan pulang. Tak lama setelah saya tiba disana, adik perempuan sayapun juga pulang dari kantornya.
Seperti biasa, sambil minum teh serta menikmati sedikit cemilan, kami bertiga berbincang “ngalor-ngidul” panjang lebar, dari mulai berita-berita “breaking news” seputar dunia ekonomi politik, hingga kisah-kisah terhangat mengenai artis-artis ibukota yang muncul hari ini di infotainment :) .
Entah bagaimana, tiba-tiba topik pembicaraan beralih menjadi diskusi seputar fitur-fitur phonecell “Blackberry” hingga uneg-uneg kekesalan adik perempuan saya yang merasa “terampas” jam istirahatnya di rumah lantaran kerap terganggu oleh beeper SMS dan dering telpon dari salah seorang kawan dekatnya yang terus-menerus meminta petunjuk untuk mengoperasikan fitur-fitur tertentu pada phonecell “Blackberry” miliknya.
“Begitu tuch., punya barang canggih tapi ‘gaptek’., ujung-ujungnya jadi ‘ribet’ sendiri.! Capek deech..” Demikian cetus adik perempuan saya.
Saya jadi teringat kenangan beberapa tahun yang lalu, ketika masih berprofesi sebagai praktisi pada beberapa perusahaan sebelum akhirnya saya memutuskan untuk banting setir menjadi associate consultant seperti sekarang. Hampir sebagian besar perusahaan dimana saya pernah bekerja disana telah mengimplementasikan software ERP untuk mensupport aktivitas bisnisnya.
Namun, tak terbilang seringnya kericuhan-kericuhan kecil yang kerap timbul “menghiasi” suasana meeting lintas departemen pada setiap minggunya.! Umumnya sebagian besar kasus atau issue yang diributkan hanya berkisar pada masalah ketersediaan data/ atau informasi, yang mana selidik punya selidik, sebenarnya informasi yang ingin didapat sudah ter-record di dalam database ERP kami, dan alih-alih tidak mengetahui bagaimana cara mendapatkan informasi tersebut (atau, malas membuka modul aplikasi ERP?), banyak diantara rekan-rekan kerja kami yang lebih condong untuk melayangkan pertanyaan mereka secara langsung ke pihak yang dituju.
Pengalaman nyaris serupa juga terjadi di tempat kerja yang berbeda, dimana setelah melalui fase observasi serta evaluasi yang cukup lama, saya memberanikan diri untuk mengajukan usulan rancangan pengembangan terhadap sistem ERP yang kami miliki saat itu agar dapat dimanfaatkan secara lebih optimal lagi. Namun diluar dugaan, tak terbayang kendala atau hambatan-hambatan yang menghadang saya untuk menggulirkan project ini di lapangan. Dari mulai dukungan yang tak sepenuh hati dari pihak atasan langsung hingga respons dari rekan-rekan sejawat yang sepertinya mengecilkan nilai benefit project tersebut.!
Capek dech.., punya barang mahal tapi nggak bisa dimanfaatkan secara optimal..
--------------------------------------------------------------------------------------------
NUMPANG LEWAT
by Arya Jalasena
TGIF – Thanks God It’s Friday.., ungkapan lama yang masih sangat populer di kalangan para karyawan/ pegawai ibu kota.
Begitulah. Mendadak pada setiap Jum’at sore, hampir semua orang berlomba-lomba keluar kantor “tenggo” (= ‘teng’, langsung ‘go’) untuk berlanjut ke acaranya masing-masing, umumnya JJS - jalan-jalan sore. Padahal biasanya pada hari kerja berbeda banyak dari mereka yang nampak seperti “orang gila kerja” alias workaholic.! Alih-alih menghindari macet after office hours, mereka lebih memilih untuk tetap ‘stay’ di meja kerja melanjutkan beberapa pekerjaan tersisa, sambil ‘cuci mata’: browsing ke dunia maya, mumpung bisa internet-an gratis.. :)
Teringat kenangan beberapa tahun yang lalu, saat masih menyandang status karyawan “nine to five”, pada setiap Jum’at sore, saya bersama beberapa kawan dekat nyaris tak pernah absen mengunjungi tempat makan favorit yang letaknya tak jauh dari lokasi kantor kami, yaitu Café Amigos (= ‘Agak Minggir Got Sedikit’). Hidangan pecel lele, ayam goreng dan racikan sambal warung yang satu ini benar-benar mantab luar biasa, serta murah meriah.!
Sekarang sasaran lokasi JJS berbeda. Hampir setiap lokasi strategis di kota ini telah megah berdiri mal-mal pusat pertokoan dengan fasilitas yang tak kalah menarik seperti pusat rekreasi Ancol.!
Kalau dulu bilamana orang berkunjung ke pusat pertokoan, maka hampir dapat dipastikan ia akan pulang dengan membawa beberapa kantong belanja. Sedangkan sekarang, belum tentu. Mungkin karena hanya sekedar JJS itu tadi.
Suatu ketika, dalam salah satu kesempatan jalan-jalan sore ke salah satu pusat pertokoan besar di kota ini, secara tak sengaja saya mendengar keluhan dari beberapa SPG mengenai sepinya pembeli. Agak aneh, karena saat itu ‘traffic’ pengunjung pusat pertokoan ini seperti biasa selalu ramai.!
Fenomena JJS, atau ‘numpang lewat’ ini mengingatkan saya dengan ungkapan yang serupa tapi tak sama: “sprinter” (= pelari cepat). Kali pertama saya mendengar ungkapan ini meluncur dari penuturan salah seorang kawan lama, seorang Marketing Manager yang mengeluhkan tingkat turn over karyawan yang begitu tinggi di tempat kerjanya.
“Ya begitulah. Saat ini orang jauh lebih setia terhadap profesi daripada perusahaan. Begitu ada ‘challenge’ atau tawaran yang lebih menarik, ia akan melesat seperti seorang ‘sprinter’.!” Demikian katanya.
Analog dengan ilustrasi pengunjung pusat pertokoan diatas, dimana pihak manajemen atau pengelola mal harus memutar otak lebih keras dalam merancang strategi pemasaran agar setiap pengunjung mau membelanjakan uangnya di tempat mereka, maka hal yang sama juga berlaku di lingkungan perusahaan/ atau organisasi lain, dimana setiap orang yang memutuskan untuk memilih bergabung dalam suatu perusahaan/ atau organisasi “dipaksa” harus mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka untuk memberikan nilai tambah demi meningkatkan daya saing perusahaan tempatnya bekerja.
Beberapa perusahaan telah sukses menjalankankan mekanisme ‘Performance Management’ serta menggulirkan program ‘Company Innovation Award’. Beberapa lagi tengah mengimplementasikan konsep ‘Knowledge Sharing’ berbasis IT/ IS di organisasinya, dan sebagian lagi lebih memilih untuk “mengikat secara halus” staf-staf terbaiknya ke dalam project-project strategis berjangka panjang.
Apapun cara yang ditempuh, pada prinsipnya: “Orang boleh keluar masuk, tetapi pastikan bahwa ilmu, pengetahuan, serta ide dan ‘buah karya’nya harus tetap tinggal di tempat.!”.
--------------------------------------------------------------------------------------------
OBSOLETE ITEM
by Arya Jalasena
Istilah diatas bisa jadi terasa asing bagi sebagian orang. Beberapa kalangan mendefinisikannya sebagai produk yang sudah tidak lagi laku terjual. Minimal sudah tidak lagi masuk di dalam product range yang akan di pasarkan (‘phased out product’), diakibatkan beragam penyebab seperti produk yang sudah jelang kadaluarsa (expired), produk yang ‘out of date’, atau produk usang yang sudah memasuki saat harus dilakukan re-test terhadapnya. Dengan kata lain, ‘Obsolete Item’ masih tetap disimpan di inventory gudang tetapi sudah tidak layak jual (‘blocked item’).
Saya jadi teringat, kekonyolan seorang kawan dekat di tempat kerja terdahulu yang kerap menggunakan istilah ini sebagai lelucon, alih-alih menyindir tetapi sekaligus juga pemacu semangat buat saya serta kawan-kawan yang lain.
Kok bisa.? Ya begitulah. Pada waktu itu suasana di tempat kerja kami sedang sedikit ‘memanas’ lantaran pihak manajemen perusahaan (mungkin dilatari dengan alasan tertentu) lebih menyukai untuk ‘hire a new one’ untuk beberapa pos jabatan kosong daripada melakukan ‘promotion from within’. Alhasil, kebijakan ini sempat memicu timbulnya gejala ‘eksodus’ beberapa staf senior, hijrah berpindah “ke lain hati”.
Ilustrasi kisah diatas bisa jadi terjadi dimana-mana, serta dapat menimpa siapa saja. Saya., Anda., Mereka., berpotensi untuk mengalami nasib seperti “Obsolete Item” tadi.
Lalu, apa yang harus kita lakukan agar tidak masuk ke dalam golongan karyawan “Obsolete” - - tetap dipertahankan di posisi sekarang, tetapi tidak akan pernah mendapatkan kesempatan promosi yang di inginkan.? Jawabannya hanya satu: Anda harus ber-investasi lebih banyak lagi ke dalam diri Anda sendiri.
Caranya.? Pertajam seluruh pancaindra Anda untuk tetap “awas” melihat, mendengar, serta merasakan setiap sensasi dari setiap jenis pekerjaan yang ada di sekitar Anda. Find out the connection one another.! Dari situ, temukan satu hal baru setiap harinya untuk Anda pelajari lebih dalam pada kesempatan berbeda.
‘Ilmu’ dan ‘Pengetahuan’ tidak harus tampil dalam wujud sebuah buku. Pun, tidak mesti harus ada dalam ruangan kelas tertutup. Selama Anda dapat mempergunakan seluruh pancaindra Anda secara optimal, disitulah “sekolah” Anda.
Jangan pernah berharap bahwa pihak perusahaan berkenan melakukan’nya untuk Anda. Justru Anda sendirilah yang bertanggung jawab penuh terhadap proses ini. Ingat, hanya ada 2 (dua) ‘rasa sakit’ dalam hidup semua orang: rasa sakit karena penyesalan, atau rasa sakit karena menjalani proses. Mana yang Anda pilih.?
--------------------------------------------------------------------------------------------
ORANG BELAKANG
by Arya Jalasena
Kaget bercampur geli hati saya, tak’kala mendengar ungkapan tersebut diatas meluncur dengan lancarnya dari mulut seorang pimpinan HR saat meminta seorang stafnya untuk memanggil beberapa staff warehouse (gudang) untuk ikut hadir ke dalam sesi FGD pagi itu.
Bukan sekali ini saya mendengar ungkapan atau istilah ‘orang belakang’ seperti saat ini. Jauh sebelumnya, pada beberapa kesempatan berbeda di tempat lainpun kerap saya dengar.
Lazimnya istilah ‘orang belakang’ sering dipergunakan untuk menyebut orang-orang yang bekerja di lingkungan warehouse (gudang) pada suatu perusahaan. Orang-orang “back end operations” – yang tugasnya hanya menjaga keutuhan barang-barang simpanan hingga melakukan eksekusi pengiriman/ distribusi barang sebagaimana “instruksi” pada surat jalan yang telah di terbitkan oleh team Marketing, Logistik, atau Departemen Supply Chain.
Celakanya lagi, barangkali karena istilah ini sudah cukup kuat melekat di benak banyak orang, tak heran kalau departemen Warehouse (gudang) menempati urutan paling bawah dalam soal alokasi budget/ anggaran untuk pelatihan dan pengembangan kompetensi personelnya.
Sekilas bisa dimaklumi, karena investasi yang memang khusus diperuntukkan untuk mendapatkan sebuah bangunan warehouse (gudang) yang ideal tidaklah sedikit. Belum lagi investasi tambahan lain yang ditanam di dalamnya, dari mulai biaya pemeliharaan, pengadaan alat-alat ‘mechanical handling’ serta ‘safety device’ hingga software inventory khusus untuk pergudangan.
Dan hampir di semua tempat, untuk menempati posisi sebagai staf atau operator gudang (seperti: store keeper, checker, picker/ packer, atau helper) hanya cukup mensyaratkan jenjang pendidikan SLTA saja dengan atau tanpa pengalaman. Sedangkan untuk posisi supervisor atau kepala gudang paling tidak memiliki jenjang pendidikan minimal setingkat D-III disertai pengalaman lebih dari satu tahun di area kerja yang sama.
Bisa dibayangkan, dengan kondisi seperti ini, dan masih ditambah minimnya kesempatan untuk pengembangan kompetensi, alhasil gudang menjadi identik dengan ‘keterbelakangan’ dan selalu menjadi urusan ‘belakang’..
“Ngomong-ngomong, pada kemana sich orang-orang belakang.? Dari tadi dihubungi extension’nya nggak ada yang angkat..?!” keluh sang HR dengan nada kesal. Kali ini saya hanya tersenyum mendengarnya..
--------------------------------------------------------------------------------------------
MILIK PANITIA LOMBA..
by Arya Jalasena
Sengaja kami berdua sempatkan untuk singgah sejenak di food court terdekat guna mendiskusikan strategi presentasi awal yang sedianya akan kami bawakan di hadapan salah satu prospect client kami pagi itu.
Kamipun memilih meja di bagian dalam, dengan maksud agar lebih fokus dalam berdiskusi. Namun ternyata kami keliru. Beberapa kali kami merasa terganggu dengan diskusi ‘heboh’ dari tiga orang pemuda yang memang duduk tidak jauh dari lokasi meja kami.!
Awalnya, kami berniat untuk pindah meja. Tetapi, entah kenapa kamipun membatalkan niatan tadi. Sepertinya topik pembicaraan ketiga pemuda tersebut jauh lebih menarik perhatian kami.
“Mana mungkin.?! Bagaimana juga gue bisa tahu apa yang jadi kebutuhan mereka.?! Demikian keluhan yang tercetus dari salah satu pemuda tersebut. “Bagi gue, ini sich seperti disuruh nge-buat ‘blind proposal’., iya nggak sich.?! Tandasnya lagi.
“Betul.!” Jawab rekannya menimpali. “Eh, elu kudu hati-hati juga lho., jangan sampai ini cuma sekedar akal bulus mereka aja untuk nge-dapetin ide project.! Susah-susah orang masih nge-jalanin proses seleksi udah disuruh bikin ‘Action Plan’., eh udah gitu belum tentu juga kita keterima kerja disitu, iya khan.?! Sambungnya lagi.
“Gue sich nggak terlalu musingin sampai sejauh itu.., yang gue pikirin sekarang adalah soal bagaimana membuat ‘Action Plan’ yang punya nilai jual.” Demikian jawab pemuda pertama tadi. “Sekarang coba aja elu bayangin, paling enggak sebelum kita membuat suatu 'Action Plan' , kita kan kudu melakukan FS – Feasibility Study atau observasi lebih dulu kan.?! Dari situ baru dech.. kita analisa satu persatu unsur SWOT’nya.. lalu kita bisa susun suatu rancangan 'Action Plan' yang sesuai dengan kebutuhan mereka., betul nggak.?!" Sambungnya lagi.
…..
Begitulah, semakin lama diskusi ketiga pemuda tersebut menjadi semakin menarik untuk di dengar. Tetapi karena waktu yang sudah tidak mengijinkan lagi, maka kamipun segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu..
‘Action Plan’ dari kandidat/ pelamar kerja = ‘Blind Proposal’..?!
Tidak juga. Selama Anda mau mengeluarkan ‘effort’ yang sedikit lebih dengan cara mengumpulkan data/ informasi awal terkait profile bisnis perusahaan tersebut, serta dilanjutkan dengan meng-analisanya secara cepat dengan cara melakukan ‘benchmarking’ dengan ‘another player’ disektor bisnis yang sama yang Anda telah ketahui betul proses bisnisnya. Dari situ Anda akan dapat membuat rancangan “Action Plan” yang ‘tailor made as needed’.
Satu hal yang Anda harus perhatikan: jangan pernah merancang suatu “Action Plan” yang Anda sendiri ragu apakah Anda dapat menggulirkan project tersebut di lapangan jika Anda benar-benar terpilih nantinya. Dan fokuslah hanya pada proses bisnis yang menurut Anda dapat memberikan ‘benefit’ atau nilai tambah bagi pihak perusahaan tersebut. ‘High Impact’ namun dengan ‘Low Effort’.
Ide ‘Action Plan’ dari kandidat/ pelamar kerja di akuisisi oleh pihak recruiter..?!
Mungkin, dan sah-sah saja.. sebagaimana ‘aturan main’ yang lazim terdapat pada setiap event lomba mengarang: “Seluruh naskah karangan yang masuk menjadi milik Panitia Lomba..”
--------------------------------------------------------------------------------------------
BELUM NGUMPUL NIIICH..
by Arya Jalasena
“Ntar dulu dong Maaah., belum ngumpul niiich..”
Entah sudah berapa puluh kali kalimat tersebut diatas kerap meluncur dari bibir mungil putra bungsu saya, Wisnu (6 th.), yang tahun ini telah duduk dibangku kelas satu sekolah dasar, ta’kala ibunya berusaha membangunkannya pada setiap pagi.
Mungkin setting “ritual” membangunkan buah hati tercinta di pagi hari semacam ini kerap dijumpai di hampir seluruh rumah tangga pasangan muda seperti kami. Singkat kata, butuh “taktik dan strategi khusus” plus ekstra kesabaran untuk menghadapi perkara yang satu ini. Seru. Namun menghibur :)
Tapi tunggu dulu, selaras dengan ilustrasi nyata diatas, bagaimana dengan kita.?
Kita.?!
Betul, kita. Saya., Anda., Mereka., dan orang-orang dewasa lainnya.? Berapa lama waktu yang kita butuhkan agar kesadaran kita “ngumpul” secara utuh supaya kita siap untuk kembali “berjibaku” di tempat kerja pada setiap Senin pagi.?
Kalau mau jujur lagi, berapa lama waktu yang kita perlukan untuk merespons setiap email pekerjaan yang masuk ke mailbox kita - - baik di pagi hari, atau usai istirahat makan siang, dengan dalih: “Ntar dulu doong.., belum ‘connect’ nich.., ‘kan baru juga duduk di kursi..”
Dan alih-alih sebagai “pemanasan” agar kesadaran kita lekas “ngumpul” (atau kembali ‘tune-in’ ke issue-issue pekerjaan), kerapkali kita selalu menyempatkan diri membaca koran/ tabloid lebih dulu, atau melakukan browsing mencari berita-berita terhangat hari ini via e-news portal di internet., bahkan kalau memungkinkan melanjutkan sebentar topik pembicaraan di kantin atau di area parkiran tadi sebelum memulai kembali pekerjaan kita.?
Itupun masih belum ditambah dengan ‘aktivitas ritual’ pribadi yang akhir-akhir ini sedang nge-trend di seluruh kalangan: ‘up date status’ via phonecell.!
Saya jadi teringat humor jahil yang terlontar dari salah seorang peserta in-house training beberapa waktu lalu usai istirahat makan siang: “.. Mumpung trainingnya belum dimulai., jangan lupa update status FB., sekalian balas BBM., atau ‘Tweet’ teman dulu yaa.., hitung-hitung ‘pemanasan’.. namanya juga belum “ngumpul”.. :)
Ya begitulah. Kata orang, cara kerja otak manusia sama persis seperti mesin photocopy: butuh waktu ‘pemanasan’ beberapa menit setelah dihidupkan sebelum bisa dipergunakan.
Dan jika mesin photocopy hanya membutuhkan waktu ‘pemanasan’ sebentar saja, maka buat sebagian besar dari kita, para karyawan - - bisa jadi, memerlukan waktu hampir sepersepuluh dari waktu efektif jam kerja kita di perusahaan (diluar jam istirahat resmi, pukul 12 siang tentunya) sebagai ‘proses warming up’ atau barangkali ‘jeda cooling down’ - - istirahat sejenak, sambil merokok di area parkiran.. (dengan dalih ‘burned out’ akibat terlibat dalam aksi seru saling melempar ‘bola panas’ dengan rekan-rekan kerja departemen lain di dalam sesi meeting yang baru saja berakhir beberapa menit yang lalu) sebelum dapat kembali fresh - ‘connected’ dengan issue-issue pekerjaan lainnya.!
‘So., jumlah waktu produktif Anda di tempat kerja yang terbuang percuma dalam kurun waktu satu minggu atau satu bulan akibat mengidap syndrome ‘Belum Ngumpul’ ini.? Cuma Anda yang tahu persis jawabannya.
--------------------------------------------------------------------------------------------
BENER UDAH SIAP.?
by Arya Jalasena
Ternyata urusan ‘adu kuat’ tidak hanya ada pada dunia olahraga saja. Paradigma ‘adu kuat-kuatan’ inipun juga nampak tertanam di benak sebagian besar praktisi/ pelaku usaha di tanah air. Tidak percaya.? Lihat saja ragam tayangan ‘perang tarif’ hingga tawaran discount serta promo-promo berhadiah yang marak di berbagai media massa akhir-akhir ini. Atau jika ingin lebih jelas lagi, cermati saja up date berita-berita ekonomi dan bisnis (hingga ‘advertorial’) di media-media tersebut, baik cetak maupun elektronik.
Tidak berhenti sampai disitu, ternyata perkara ‘adu kuat’ inipun juga sudah menjadi perkara yang jamak terjadi pada lingkungan yang lebih kecil lagi, yaitu: di tempat kerja.
Entah bagaimana asal muasalnya, yang pasti sudah jadi ‘rahasia umum’ kalau setiap pimpinan departemen (Manager) pasti akan berjibaku habis-habisan mempertahankan “kehormatan korps” (= departemen) yang dipimpinnya.!
Tidak ada seorang Manager/ Supervisor yang bersedia “dilucuti” habis-habisan oleh koleganya (dari departemen lain) pada forum tertutup semisal pada meeting lintas departemen yang kerap dilaksanakan setiap minggunya.
Pendek kata, para personel (staff karyawan) di semua lini - - selain dituntut terampil, juga harus bermental baja agar kuat menghadapi tekanan sekeras dan seberat apapun di tempat kerjanya. Selalu siap dengan segala kemungkinan yang mungkin timbul di hari ini serta esok.
Coba ingat, berapa banyak orang yang Anda kenal, yang dalam kurun waktu 1 tahun terakhir - - dengan dalih atau alasan apapun - - sudah berpindah tempat kerja lebih dari dua kali.?
Ya begitulah. Laksana buih ombak di pantai., orang datang dan pergi begitu saja..
Padahal masih lekat dalam ingatan, ucapan bijak yang berbunyi: “.. hidup adalah sebuah pilihan., apapun pilihan Anda., pastikan itu adalah yang terbaik buat Anda..”
Mungkin kita lupa, bahwasanya apabila kita memutuskan untuk bergabung dengan suatu institusi/ organisasi/ atau perusahaan apapun, maka pada saat itu juga seharusnya kita menyadari kalau kita telah siap untuk “kehilangan” separuh dari hak kita sebagai individu.!
Tinggal sebut satu persatu: Anda harus siap bangun dan berangkat kerja sepagi mungkin guna menghidari kemacetan di jalan. Kedua., Anda harus tunduk dan mematuhi setiap peraturan serta bersedia mengikuti prosedur kerja yang berlaku. Ketiga., Anda harus siap menerima instruksi atau perintah dari atasan untuk lembur (overtime) kapan saja - - utamanya jelang closing report bulanan/ quarterly/ atau jelang tutup tahun. Keempat., Anda harus siap dengan kemungkinan penambahan beban pekerjaan, atau di rotasi ke pos pekerjaan berbeda, hingga dimutasi.! Kelima., Anda harus mampu bergerak cepat mengikuti roda bisnis perusahaan yang semakin hari semakin cepat perputarannya.. yang mana bila Anda gagal untuk perkara yang satu ini kemungkinan terburuk yang mungkin menimpa Anda adalah diberhentikan dari jabatan Anda.!
Dan satu lagi perkara yang tidak dapat dianggap sepele - - yang kerap menjadi ‘batu sandungan’ bagi setiap orang adalah: ‘Komunikasi’. Dimana, sebagai bagian dari team kerja dari suatu divisi atau departemen (atau pada suatu project tertentu), maka Anda juga harus siap dengan kemungkinan adanya ‘gesekan-gesekan panas’ yang mungkin timbul diantara Anda dengan sesama kolega/ rekan kerja lain yang memiliki ragam sifat, karakter serta gaya komunikasi yang berbeda-beda..
Pertanyaannya adalah: Seberapa jauh Anda telah mempersiapkan diri Anda untuk mampu melewati seluruh rangkaian proses diatas sebagai bagian dari ‘anak tangga’ menuju sukses..?
-----------------------------------------------------------------------------------------
SAMA AJA ‘KOK..
by Arya Jalasena
Beberapa waktu lalu saya sempat berkomunikasi dengan seorang kawan lama via fasilitas chatting pada salah satu situs jejaring sosial terkemuka di dunia maya. Dalam salah satu obrolan dengannya, tersirat suatu resolusi pribadi dari kawan lama saya tersebut dimana saat itu dia telah mengukuhkan niat untuk bisa mendapatkan kesempatan ‘double jobs’ sebagai associate consultant ‘free-lancer’ disamping tetap menekuni pekerjaan rutinnya sebagai karyawan.
Sebenarnya bukan sekali dua kali saya mendengarkan ‘statement’ (lebih tepatnya: ‘request’) seperti ini. Pun pada kesempatan berbeda beberapa waktu yang lalu juga pernah ada beberapa kawan lama lain yang juga menyatakan keinginan yang sama kepada saya.
Awalnya kaget bercampur geli ketika mendengar alasan-alasan yang melatarbelakangi niatan mereka tersebut. Kaget, karena setahu saya beberapa dari mereka telah menyandang status sebagai karyawan tetap ‘nine to five’ dan telah mendapatkan beragam atribut fasilitas C&B yang sudah lumayan lengkap dari mulai gaji pokok yang telah diatas UMR, meal & transport allowance, medical reimbursement, THR satu bulan gaji, bonus tahunan, hingga upah lembur, Jamsostek, dll. Agak aneh, karena paling tidak menurut kacamata saya mereka sudah cukup nyaman berada di “secure area” dalam kehidupan mereka.
Lucunya, sebagian besar dari mereka menganggap bahwasanya profesi ‘free-lancer’ semacam “management consultant associate” seperti yang tengah saya tekuni sekarang ini sangat ‘enak’ dan ‘menyenangkan’.
Sebut saja mulai dari mendapatkan kesempatan travel atau bepergian dalam rangka tugas sebagai konsultan (atau sebagai trainer/ co-facilitator) dengan biaya yang ditanggung sepenuhnya oleh pihak EO (atau pihak client sebagai ‘project owner’), mendapatkan kesempatan yang luas terbuka lebar untuk dapat terlibat di beberapa project berbeda sekaligus pada periode waktu yang sama - - selama tidak saling bentrok satu sama lain, hingga ‘keluar masuk’ menikmati beragam fasilitas function hall di hotel/ business center terkemuka (atau minimal meeting room, atau training facility di tempat client), dan masih banyak lagi.
Menyenangkan.? Ya begitulah. Karena hampir disetiap bulannya bisa bertemu orang-orang berbeda pada beragam event kegiatan dengan setting lokasi yang berbeda pula.
Ssstt.., padahal asal tahu saja, walaupun profesi ini memiliki prestise serta gengsi yang cukup tinggi, seorang ‘management consultant’ tidak mesti selalu bekerja dalam suasana yang nyaman semisal di ruang ber-AC serta menikmati layanan layaknya seorang tamu VIP di perusahan client. Ada kalanya kita justru harus terjun ke lapangan serta berinteraksi secara langsung berjam-jam dengan karyawan ‘low level’ , bukan dengan Direktur atau Manajer Departement.
Menantang.? Jelas. Karena pada umumnya pihak client yang menggunakan jasa firma atau biro konsultan tidak hanya mencari seorang konsultan (atau facilitator) yang jeli dalam perkara ‘problem findings’ di lapangan tapi sekaligus ia juga seorang ‘problem solver’ yang piawai. Pendek kata, perusahaan client biasanya memerlukan ‘expertise’ serta ‘new perspective’ dari seorang outsider yang dianggap memiliki kompetensi di bidang yang mereka butuhkan.
Namun di satu sisi, setelah sekian lama menyelami, saya mendapati kenyataan bahwasanya apabila seseorang memutuskan untuk beralih profesi menjadi ‘Consultant Associate’ professional berarti dia harus benar-benar siap untuk terjun bebas - - ‘jumping in with both feet and throwing him/ or herself full-force into a project.!’ Artinya, ini adalah profesi yang tidak dapat dilakukan sambil lalu atau setengah-setengah.
Walaupun masih ada beberapa miskonsepsi lain seputar ‘dunia konsultan’ namun kurang lebih sama saja. Apakah Anda memutuskan untuk memilih karir yang ‘secure’ dengan bekerja sebagai karyawan ‘nine to five’ , atau ingin menjadi ‘Associate Consultant’ pada firma atau biro konsultan SDM (yang bisa jadi Anda tidak diwajibkan untuk masuk kerja setiap hari), berarti selain harus menjunjung tinggi kehormatan (baca: Nama Baik) dari korps Departemen atau Divisi dimana Anda bernaung didalamnya, Anda juga harus menjaga kerahasiaan kerja dari pihak-pihak yang tidak berwenang.
Dan satu hal lagi yang harus diingat, dengan menempatkan diri pada posisi dimana Anda adalah merupakan bagian dari keluarga besar organisasi/ perusahaan, maka Anda harus siap untuk ‘mengeluarkan yang terbaik’ dari diri Anda serta harus terus melakukan up date pengetahuan tak terkecuali ‘skills’ yang Anda miliki secara berkesinambungan, bilamana tidak maka Anda harus siap untuk ‘tersingkir’ keluar arena.!
At least, bilamana umumnya seorang karyawan pada suatu perusahaan diawasi serta dinilai kinerjanya oleh atasan langsung, maka seorang ‘Consultant Associate’ akan dinilai serta di evaluasi performanya oleh tiga pihak berbeda sekaligus secara bersamaan: Project Leader, anggota Team lain pada project yang sama, serta ‘observer’ dari pihak client (atau EO) selaku user pengguna jasa.